Kesimpulan Perjalanan Pendidikan Nasional

 Kesimpulan Perjalanan Pendidikan Nasional

Perjalanan Pendidikan nasional dimulai pada masa kolonia Belanda, pendidikan sebelum kemerdekaan pertama diselenggarakan oleh bangsa portugis. Pendidikan yang diselenggarakan bangsa portugis sudah modern dan mengenalkan huruf latin, tetapi system pendidikan bangsa portugis di nusantara tidak bertahan lama karena digantikan oleh bangsa belanda. Bangsa belanda mendirikan sekolah-sekolah kabupaten untuk calon-calon pegawai dan sekolah guru. Pendidikan dijadikan alat untuk mendapatkan tenaga kerja terampil yang murah serta sekolah yang dibuka hanya bisa dinikmati oleh anak-anak pegawai negeri dan orang kaya. Sekolah Bumiputera didirikan   untuk masyarakat kelas bawah, dimana hanya diajarkan membaca, menulis dan berhitung. Tujuannya adalah untuk mendidik orang orang yang dapat mendorong usaha dagang pemerintah hindia belanda. Oleh karena  itu,  para  pelajar  yang melihat  kondisi  tersebut, tergerak hatinya  untuk  melakukan transformasi pendidikan bangsa Indonesia. Salah satu tokoh yang berperan dalam perubahan pendidikan Indonesia yang dijuluki sebagai   bapak   pendidikan   nasional   ialah Ki Hajar Dewantara. Pada saat itu, KI Hajar Dewantara beberapa kali diasingkan hingga beliau harus pergi ke Belanda namun di masa pengasingannya beliau semakin bersemangat untuk membangkitkan pendidikan di Indonesia maka dari itu beliau mencurahkan perhatiannya dalam  bidang pendidikan sebagai bentuk perjuangan meraih kemerdekaan. Ki Hajar Dewantara mendirikan perguruan Taman Siswa untuk memberikan kesempatan dan hak pendidikan yang sama bagi para pribumi yang tidak didapatkan seperti priyayi atau orang-orang belanda. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan dan pengajaran adalah proses memanusiakan manusia sehingga harus memerdekakan manusia dalam segala aspek kehidupan baik secara fisik, mental, jasmani, dan rohani. Ki Hajar dewantara juga memberikan nasehat agar mendidik anak-anak bangsa dengan cara yang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Kodrat alam merupakan isi dan bentuk kondisi lingkungan sedangkan kodrat zaman adalah pendidikan dan pengajaran yang diberikan sesuai dengan era zaman nya agar anak-anak dapat mengikuti perkembangan zaman. Gagasan Ki hajar Dewantara yaitu ing ngarso sung tulodo (pendidik  berada  di  depan  memberi teladan);  in madyo mangun karso (pendidik selalu berada di tengah dan terus menerus memprakarsai/memotivasi), dan  tut  wuri handayani  (pendidik selalu  mendukung  dan mendorong peserta didik untuk maju) diharapkan tidak menjadi semboyan dan slogan semata. Sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan, Kementerian pendidikan dan kebudayaan memperkenalkan program pendidikan dengan pembelajaran paradigma baru atau kurikulum baru yang menggantikan kurikulum lama K-13 dengan kurikulum merdeka belajar, dimana kurikulum merdeka ini memiliki relevansi dengan terselenggarakannya pendidikan di zaman sekarang. Adapun maksud dari program ini ialah terselenggaranya pendidikan yang berorientasi pada kemerdekaan guru dan siswa dalam proses belajar mengajar sehingga proses pembelajaran akan bermakna, berkualitas, dan memberi rasa aman. Sistem pendidikan yang masih membelenggu harus diperbaiki agar dapat sejalan dengan dedikasi Ki Hajar Dewantara dalam mengembangkan jati diri kultural anak bangsa untuk mewujudkan generasi yang cerdas dan berkarakter.

 

Refleksi Diri

Setelah membaca dan mempelajari materi mengenai perjalanan pendidikan nasional indonesia dan pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan adalah dasar yang sangat penting bagi suatu negara. Melalui pendidikan, nilai-nilai budaya dan karakter nasional dapat dijaga dan menjadi bagian dari kepribadian bangsa. Melalui pendidikan, nilai-nilai budaya dan karakter ini akan membentuk identitas dan kepribadian bangsa. Oleh karena itu, penting untuk mengimplementasikan profil pelajar Pancasila sebagai pondasi utama dalam perkembangan pribadi generasi bangsa. Selain itu saya mengetahui bahwa pendidikan itu bukan hanya soal bagaimana seorang murid mendapatkan nilai yang sempurna, namun sebagai pendidik harus tahu dan bisa bagaimana membentuk dan mengarahkan pemikiran-pemikiran kritis dan pola perilaku seorang murid yang baik yang dapat menjadi bekal murid tersebut menghadapi masa yang akan datang. Dalam proses pembelajaran, guru harus bisa memberikan perhatian, menghargai setiap pencapaian peserta didik dan merencanakan pembelajaran berdasarkan kebutuhan mereka. 

Komentar